Kabar

Belajar dari Pasoa, Belajar dari Kudus

Siswa SMK Raden Umar Said, Kudus, Jawa Tengah mendemonstrasikan kemampuan mereka dalam membuat animasi film saat peluncuran film Pasoa & Sang Pemberani di CGV Cinemas Grand Indonesia
Siswa SMK Raden Umar Said, Kudus, Jawa Tengah mendemonstrasikan kemampuan mereka dalam membuat animasi film saat peluncuran film Pasoa & Sang Pemberani di CGV Cinemas Grand Indonesia

“Si Pengacau Pembangunan”. Itulah julukan yang diberikan oleh Raja Alas kepada Pasoa, hewan buas yang mengganggu proyek pembangunan kerajaannya. Proyek infrastrukturnya, dengan membuka kawasan hutan, selalu diobrak-abrik oleh hewan yang dikenal hanya lewat mitos, bukan harimau tapi punya loreng dan bergerak lincah seperti ikan. Raja Alas mencari para pemuda pemberani yang bisa menanggulangi ancaman tersebut demi kelangsungan pembangunan.

Karun dan Amet Muda pun maju menghadapi Pasoa. Namun, mereka kalah. Karun menjadi jahat karena niat awalnya memang balas dendam atas kematian ayahnya. Adapun Amet diselamatkan anak-anak yang hidup bersama Pasoa. Dari anak-anak itu dia belajar bahwa lingkungan harus dijaga. Pembangunan yang dilakukan Raja Alas ternyata merusak keseimbangan alam.

Film animasi Pasoa & Sang Pemberani yang berdurasu 25 menit itu ditayangkan di layar bioskop CGV Cinemas Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (24/2). Film animasi itu lahir dari RUS Animation Studio milik SMK Raden Said di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Film itu dibuat oleh 38 pelajar kelas X-XI sekolah tersebut, mulai dari pembuatan desain konsep, storyboard, hingga animasi tiga dimensi, selama 15 bulan dari awal hingga siap ditayangkan.

Sulthoni Azdim, siswa kelas XI, misalnya, bertanggung jawab dalam color grading atau memastikan setiap adegan memiliki karakter warna demi membangun suasana. Dua bulan terakhir, dia akrab dengan perangkat lunak pengatur grading warna, yani Davinci Resolve, berikut perangkat tambahannya.

Sulthoni yang sebelumnya tak memiliki pengalaman dengan komputer kini menyatakan dengan mantap bahwa dunianya adalah animasi dan berniat melanjutkannya begitu lulus. “Saya akan cari pengalaman dan mencoba kesempatan untuk terjun ke industri animasi,” ujarnya.

Sejak mendaftar sebagai pelajar SMK Raden Umar Said, Sulthoni mulai belajar animasi menggunakan Maya 3D dari Autodesk. Perangkat lunak ini juga digunakan untuk membuat film animasi, seperti Finding Nemo dari Pixar, juga Frozen dari Disney. Namun, rupanya dia menemukan panggilannya di dunia grading warna.

Animasi ini tidak diniatkan sebagai produk komersial, tetapi presentasi karya siswa SMK yang mendapatkan dukungan dan bimbingan. Film ini tak sampai seperti film animasi dua dimensi The Battle of Surabaya dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Amikom, Yogyakarta, yang diputar di layar bioskop.

Animasi Pasoa direncanakan tayang di salah satu stasiun televisi swasta pada awal Maret dan sesudah itu beredar di layanan video, seperti Youtube.

Dari kualitasnya, terlalu berlebihan apabila mempunyai ekspektasi intuk mengimbangi karya yang ditampilkan di bioskop mengingat film animasi ini adalah proyek yang digarap oleh 38 siswa. Dari sisi animasi, dialog, dan penceritaan animasi ini membutuhkan polesan lagi.

Meskipun demikian, film Pasoa & Sang Pemberani ini bisa menggaet nama pesohor, seperti aktor Tio Pakusadewo dan vokalis Tria M Ramadhani untuk mengisi suara Raja Alas dan Amet Muda. Penyanyi Isyana Sarasvati juga terlibat untuk lagu tema film animasi ini yang berjudul “Gema Alam Raya”.

Direktur Teknis Kinema Studio Daniel Harjanto ditunjuk sebagai penasihat teknis bagi RUS Animation Studio selama penggarapan film Pasoa. Selain menghadirkan peralatan terkini dan membuka wawasan para siswa, diundanglah beberapa animator dari perusahaan global, seperti Kadokawa Content Academy dari Jepang atau Woody Woodman yang terlibat dalam animasi yang dikerjaka Disnet, seperti Mulan atau Tarzan.

Daniel mengungkapkan kelangkaan sumber daya manusia yang kompeten di dunia animasi Tanah Air. Itulah mengapa dunia usaha perlu berkolaborasi dengan dunia pendidikan untuk menghasilkan praktisi yang dibutuhkan oleh pasar.

Referensi

Fenomenal adalah istilah yang dipakai Direktur Pembinaan SMK Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Mustaghfirin melihat pementasan animasi tersebut. Menurut dia, SMK Raden Umar Said bisa menjadi referensi bagi SMK animasi lain.

“Pendekatan proses pembelajaran tidak berbasis yang biasa atau keilmuan, tapi berbasis kebutuhan dan tren industri. Dengan demikian, anak-anak bisa fokus belajar untuk mengasah talentanya”, kata Mustaghfirin.

Kemendikbud berencana mendukung 30 SMK animasi dengan peralatan memadai, seperti lisensi perangkat lunak. Para guru juga wajib mengembangkan wawasan dengan belajar dari praktisi profesional. Dia berharap film ini akan memancing sekolah lain untuk menghasilkan karya serupa sekaligus momen memperbaiki cara pengajaran SMK animasi.

Menurut Aldinno Wartono, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Raden Umar Said, kerja sama dengan Djarum Foundation memungkinkan sekolah animasi itu bisa berdiri dan memiliki pengaruh di industri kreatif. Dia menyebut bantuan seperti pengadaan komputer dengan spesifikasi premium dan perangkat lunak bisa mencapai Rp 10 miliar – Rp 15 miliar.

Primadi Serad, Direktur Program Bakti Pendidikan Djarum Foundation, mengatakan, kerja sama ini dilakukan pada 2014 untuk memiliki SMK animasi berstandar internasional. Pihaknya juga melakukan hal serupa untuk 15 SMK lain dengan 12 keterampilan berbeda, seperti kemaritiman pariwisata, dan teknologi informasi.

Dan, animasi Pasoa & Sang Pemberani merupakan bukti bahwa sumber daya manusia, yang berasal dari daerah yang dikenal sebagai kutub animasi, pun bisa dipoles untuk menghasilkan karya yang mengundang decak kagum.

(DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO)

Sumber: Kompas Cetak, Minggu 26 Februari 2017, Hal 5

Kompas Cetak, 26 Februari 2017, Hal 5
Kompas Cetak, 26 Februari 2017, Hal 5