Kabar

DEMOKREATIF: ORGANICALLY GO VIRAL

foj_full

Yoga Adhitrisna dan Hari Prast merupakan dua sosok yang mewakili Demokreatif. Bermula dari menjadi relawan pada Pilpres 2014, mereka menerbitkan dua buah buku dan dikenal luas sampai ke mancanegara serta baru saja masuk sebagai nominasi mewakili Indonesia untuk kategori “Best in Government & Politics” dalam 7th Annual Shorty Awards. Simak obrolan keduanya dengan Martin Johnindra berikut.

Apa kesibukan kalian masing-masing?

Yoga: Kami bekerja di advertising agency, Berakar Komunikasi. Sejak pascapemilu kemarin, kami bikin Demokreatif yang berfokus pada proyek seni dan komunikasi sosial.

Bagaimana kalian berdua bergabung hingga tercipta Demokreatif?

Hari: Sebenarnya kami sudah punya ide ini sejak lama, cuma tidak tahu caranya. Pascapemilu kami bergerak jadi relawan. Kami harus mulai menjalani mimpi untuk membuat divisi ini, gabungan art dan social movement.

Yoga: Momentumnya, kami membuat kampanye untuk Jokowi. Hasilnya lumayan booming. Case study ada. Untuk advertising award, kami dapat berbagai piala. Pengakuan dari masyarakat juga ada. Akhirnya kami diminta membuat dua buku ini.

Apa sebenarnya visi misi Demokreatif?

Yoga: Kami punya skill untuk melakukan proyek-proyek komunikasi yang selama ini hanya dipakai untuk pekerjaan profesional. Kami ingin skill ini bermanfaat untuk bangsa dan negara juga ekspresi estetika seni kami. Kami berusaha lebih bermanfaat, makanya merasa perlu ada Demokreatif.

Hari: Kami melepaskan unek-unek tentang hal positif apa yang bisa diberi ke masyarakat. Bukan hanya membuat karya karya sesuai pesanan, tetapi kami memang mau melakukan ini.

Bagaimana akhirnya karya-karya ini diterbitkan dalam dua buku?

Hari: Kami dan penerbit berpikir, di sini kami adalah pelaku, pembuat karya sendiri. Di buku ini, kami jelaskan apa yang kami kerjakan bisa jadi literatur. Kalau kata Yoga, buku seperti ini belum pernah ada.

Yoga: Dari masa kampanye, penerbit sudah menghubungi. Saat itu kami benar-benar sibuk.
Buku yang kecil ini tentang proses kreatif yang kami buat. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah pertanggungjawaban karya. Kalau menurut kami, buku seperti ini jarang. Biasanya, buku kreatif hanya berisi tips dan karya milik orang lain yang mungkin dari luar negeri. Buku ini kami yang bikin. Ini teori kreatif yang kami pakai, ini result-nya. Jadi, di dunia iklan dan komunikasi di Indonesia, buku seperti ini masih jarang.

Hari baru kembali dari Jerman untuk memperkenalkan Demokreatif di Leipzig Book Fair. Bagaimana sampai bisa diundang ke sana?

Hari: Saya juga kaget. Ha-ha-ha. Tidak tahu permintaan dari sini atau Jerman, pokoknya saya harus berangkat menjelaskan konsep Demokreatif.

Pengalaman apa yang didapat di sana?

Hari: Indonesia sebenarnya jadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair. Di Leipzig ini, Frankfurt Book Fair dapat stand besar dan Indonesia diajak. Istilah Goenawan Mohamad dan Slamet Rahardjo, ini pemanasan ke Frankfurt. Saya mewakili kampanye dalam bentuk visual ilustrasi. Katanya, baru pertama kali ada komik Indonesia yang seperti itu dibawa ke internasional. Saya tidak menyangka efeknya seperti itu. Peminatnya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga sampai sana.

Yoga: Dari segi karya, berkampanye untuk pemilu seperti ini harusnya menjadi fenomena di dunia dengan masyarakat empower untuk berkampanye sesuai pilihannya, tetapi tetap dalam koridor demokrasi: tanpa menjelekkan pihak lain dan tidak menyebarkan kampanye hitam. Ini poin bagus yang bisa dibawa ke mana-mana.

Apa saja award yang didapat selama ini?

Yoga: Pinasthika Award 2014, award khusus untuk agensi lokal di Jogja. Berakar Komunikasi jadi “Agency of the Year”. Nilai kami paling banyak, total 10 award. Yang menonjol itu emas untuk social movement dan kampanye terintegrasi. Di Citra Pariwara 2014, award untuk semua agensi se-Indonesia, kami dapat sembilan award. Yang menonjol, emas untuk kampanye terintegrasi dan best medium kampanye terintegrasi. Semua ini based on kampanye “Kisah Blusukan Jokowi”. Buat saya, kesempatan ini mewah karena biasanya brand besar yang mendapatkannya.

Pengalaman menarik apa selama Demokreatif berjalan?

Hari: Semua serba tiba-tiba. Tiba-tiba bantu kampanye Hari Film Nasional 2015, oke. Tiba-tiba mau bikin #SeniLawan Korupsi, yuk. Ini menarik karena brief serba-dadakan, mengerjakannya juga mendadak. Ha-ha-ha. Masyarakat mau terima apa yang kami bikin saja itu sudah poin tersendiri. Itu yang bikin kami ketagihan untuk bikin movement untuk masyarakat.

Yoga: Saya dapat teman baru banyak dan menarik. Tiba-tiba saya bisa mengobrol dengan Goenawan Mohamad. Sebelumnya, ‘kan, saya lihat ia sebagai idola. Sekarang, saya bisa diskusi dengannya.

Apa target kalian ke depan?

Hari: Ada movement yang bisa kami bantu, waktunya cocok, kami pasti akan bantu. Misalnya, kami pernah bantu Greenpeace, sekarang Hari Film Nasional, kemarin Seni Lawan Korupsi. Kami ingin mengubah persepsi orang cara berkampanye.

Yoga: Ada rewriting ilmu-ilmu komunikasi. Itu juga karena perkembangan teknologi dan digital. Cara berkomunikasi sudah bergeser. Teori zaman saya kuliah menjadi semimentah. Sekarang ada teknik-teknik baru. Nah, kami go with the flow di situ. Syukur, kami bisa duluan.

Sebagai warga Jakarta, apa harapan Anda tentang kota ini?

Hari: Saya senang mengamati berbagai macam orang karena bisa dituangkan ke karya. Masalah saya hanya terjebak macet. Saat saya ke Jerman kemarin, ternyata banyak orang tertarik dengan Jakarta meski macet tidak keruan.

Yoga: Harapan saya, Jakarta tidak jadi seperti ini, padat, tetapi redundant. Banyak duplikasi. Mal, real estate, sama saja. Anak-anak tidak punya playground. Hiburan sepertinya banyak padahal pengulangan dan butuh modal semua. Dulu saya pernah shooting di New Zealand. Kotanya kecil, tetapi isinya macam-macam. Di pinggir pantai ada musik jalanan, jogging atau naik sepeda jadi hiburan. Saya berharap Jakarta bisa seperti itu sehingga menaruh pantat saja tidak susah dan mahal sekali. Ya, kita butuh banyak hiburan manusiawi, murah, dan sehat.