Kabar

Good Content Menjadi Resep Paten Berakar Komunikasi

Yoga Adhitrisna, Director, Chief Creative Officer BERAKAR Komunikasi
Yoga Adhitrisna, Director, Chief Creative Officer BERAKAR Komunikasi

Ketika sektor advertising kena imbas turbulensi ekonomi, jasa Digital Campaign menuai panen. Menurut Director and Chief Creative Officer Berakar Komunikasi Yoga Adhitrisna, agensi ini justru tahun ini mendapatkan banyak pekerjaan. Sejatinya Berakar Komunikasi adalah agensi penyedia jasa komunikasi terintegrasi seperti agensi lainnya—termasuk di antaranya jasa advertising dan komunikasi digital. Namun dalam ajang Agency of The Year 2015 ini, Berakar terpilih untuk kategori Digital Creative Agency.

“Walaupun kami lahir dan besar di era konvensional tapi juga garap creative boutique dimana unsur digital adalah bagian tidak terpisahkan dari unsur kreatif. Kami sangat paham inside dan cara berpikir target audience Indonesia yang mulai beranjak ke serba digital,” kata Yoga.

Sebagai pemain baru di industri kreatif—lahir pada 2008, kata Yoga, Berakar Komunikasi memiliki resep paten: good content dan mengerti kebutuhan pasar Indonesia (konsumen). “Dua kata kunci tersebut yang menjadikan lahirnya Berakar Komunikasi.” Menurut Yoga, ada idealism ketika perusahaan ini berdiri. “Awalnya kami melihat lanskap industri kreatif Indonesia tidak mencerminkan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, visi kami membuat creative (iklan) dengan nilai sangat Indonesia, sesuai dengan target audience si pemilik brand yakni orang Indonesia.”

Dengan visi tersebut, ungkap Yoga, Berakar Komunikasi bisa menggarap sekitar tujuh atau delapan brand setiap bulannya. “Klien kami banyak berasal dari industri fast moving consumer goods (FMCG), insurance, cigarette, steel, hingga nutrition product. Kami pegang mulai dari Above The Line sampai dengan pemanfaatan digital sebagai media tools untuk berkomunikasi dengan konsumen.”

Menurut Yoga, selain pemanfataan digital sebagai media komunikasi, kini tantangan industri kreatif justru terletak kepada unsur kreativitas itu sendiri. “Banyak pelaku kreatif tidak berani melakukan terobosan dan inovasi. Hasilnya, selama ini justru terjadi repetition untuk bermain aman. Banyak iklan-iklan yang memiliki pola sama dengan konten yang berbeda, padahal digital memberikan ruang untuk berkreasi dan berinovasi,” imbuh Yoga.