Kabar

Hoegeng Imam Santoso, Mantan Kapolri Pecinta Musik Hawaii

Hoegeng Imam Santoso (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)
Hoegeng Imam Santoso (Foto: Muhammad Faisal Nu’man/kumparan)
‘Musik Bagus Day’ yang digelar bertepatan dengan Hari Musik Nasional menyelenggarakan sebuah talkshow berjudul ‘Kata Pahlawan: Hoegeng Imam Santoso’. Sebelumnya, acara yang diprakarsai oleh Glenn Fredly ini sudah pernah menampilkan tiga pahlawan lainnya, yaitu Soekarno, Ismail Marzuki, dan Suyoso Karsono.
Hoegeng merupakan mantan Kapolri tahun 1968 hingga 1971. Tak disangka-sangka, ia memiliki hobi bermusik, melukis, hingga sempat menjadi penyiar radio di Yogyakarta. Musik bernuansa Hawaii adalah genre yang paling digemari pria yang dijuluki sebagai ‘The Singing Commodore’ itu, membuat dirinya mengisi salah satu program acara televisi lokal bersama band-nya, The Hawaiian Seniors di tahun 1968.
“Beliau sempat punya acara di TVRI yang bertahan selama satu dekade. Beliau juga pelopor atas berkembangnya musik Hawaii di Indonesia,” ucap Glenn Fredly seusai acara.
Selama 10 tahun berjaya di televisi nasional, acara yang melambungkan band yang diprakarsai oleh Hoegeng dan Soejoso Karsono ini pun diberhentikan. Alasannya pun tak masuk akal. Soejoso yang kerap disapa Yos itu mengaku, banyak lagu dari band-nya yang menyindir hampir semua pejabat pemerintah kala itu. Akhirnya, mereka pun menerima dengan alasan bahwa musik yang dibawakan The Hawaiian Seniors bukan asli Indonesia.
Penyanyi solo Glenn Fredly. (Foto: Prabarini Kartika/kumparan)
Penyanyi solo Glenn Fredly. (Foto: Prabarini Kartika/kumparan)
Dari keterangan yang diterima kumparan (kumparan.com), Hoegeng saat itu kerap mempertanyakan dirinya yang dianggap dapat mempengaruhi masyarakat.
“Bagaimana dengan musik pop atau dangdut?” tanya Hoegeng kala ia itu.”Dikira kalau saya nongol dan menyanyi di televisi, saya bisa mempengaruhi orang-orang. Sering heran, kok sampai sekarang saya masih hidup? Buat saya, ini larangan yang menggelikan.”
Pria yang sempat menjadi penyiar radio ALDO (Angkatan Laut, Darat, dan Oedara) ini menyebut musik bernuansa Hawaii sebagai musik ‘irama lautan teduh’. Tentu saja karena iramanya yang seteduh indahnya pantai di Indonesia.
“Secara geografis dan kultural sangat dekat dengan Indonesia bagian Timur, terutama Maluku. Malah sudah jadi budaya di sana,” tambah Glenn soal genre musik tersebut.
Selain itu, Hoegeng memiliki cita-cita untuk menjadikan musik Indonesia sebagai tuan rumah di negerinya sendiri. Ia pun menjadi salah satu pendiri Yayasan Musik Indonesia, sebuah sekolah yang juga dinaungi oleh Glenn.
Pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah itu pun meninggal pada 14 Juli 2004 di usia 82 tahun karena stroke.
Hadir dalam acara bincang-bincang tersebut adalah istri dari mendiang Hoegeng, yaitu Merry Hoegeng, dan juga para sahabatnya, yakni Soejoso Karsono, Bing Leiwakabessy, Henny Purwonegoro, Marini Sumarmo, hingga Bob Tutupoly.’
Glenn Fredly bersama Merry Hoegeng. (Foto: Prabarini Kartika/kumparan)
Glenn Fredly bersama Merry Hoegeng. (Foto: Prabarini Kartika/kumparan)

Sumber: https://kumparan.com/anissa-maulida/hoegeng-imam-santoso-mantan-kapolri-pecinta-musik-hawaii