Kabar

Komik Pro Bono Calon Presiden

KOMIK TINTIN JOKOWI - Yoga (kanan) dan Herry (kiri) menjelaskan konsep poster komik Tintin Jokowi kepada SH di Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (10/6). Kedua pemuda ini mendukung capres Jokowi dengan ide kreatifnya, membuat komik perjalanan blusukan Jokowi mengelilingi Indonesia.
KOMIK TINTIN JOKOWI – Yoga (kanan) dan Herry (kiri) menjelaskan konsep poster komik Tintin Jokowi kepada SH di Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (10/6). Kedua pemuda ini mendukung capres Jokowi dengan ide kreatifnya, membuat komik perjalanan blusukan Jokowi mengelilingi Indonesia.

Jokowi menjelma menjadi Tintin? Hahaha… kedua sosok ini memang mirip. Rambut klimis, badan kurus, dan lengan baju digulung. Tintin suka berpetualang, Jokowi suka blusukan. Sama-sama ngetop dan disukai segala kaum. Bedanya, Tintin figur fiktif karya Hergé artis dari Belgia, Jokowi adalah figur benaran yang sedang bertarung menuju kursi RI-1.

Komik Tintin merajai seantero jagad sebagai bacaan favorit selama lebih dari 70 tahun. Tak mau kalah, Indonesia juga sedang keranjingan “komik” Jokowi. Disebut “komik” bukan komik, karena baru ada cover-nya saja. Isinya nanti dibuat sendiri oleh Jokowi dan rakyat Indonesia. Cerita riil setelah Jokowi menjadi presiden.

Sudah ada delapan yang beredar di masyarakat, di antaranya “Kisah Blusukan Jokowi di Papua”, “Kisah Blusukan Jokowi di Makassar”, “Kisah Blusukan Jokowi di Yogyakarta”, “Kisah Blusukan Jokowi di Jawa Timur”, “Kisah Blusukan Jokowi di Jawa Barat”, “Kisah Blusukan Jokowi di Sumatera Utara”, dan “Kisah Blusukan Jokowi di Potlot”.

Tentu saja pencipta halaman muka Tintin Jokowi itu ngefans berat sama Tintin yang asli. Hari Prasetiyo (41), sang kreatornya, mengaku terinspirasi Tintin yang karakternya banyak kemiripan dengan Jokowi. “Nggak kaya, suka petualang, suka membantu, dan jujur. Daripada bikin komik superhero atau mandarin, saya sanggupi untuk membuatnya kalau kantor setuju,” katanya sambil tertawa.

Hari yang sebagai creative director di Berakar Komunikasi, merasa perlu meminta persetujuan teman-teman kantornya karena tugasnya di perusahaan advertising itu terbilang padat. Beruntung, energi mereka nyambung, semua orang sekantor mendukungnya dengan membebaskan Hari dari pekerjaan rutin untuk membuat cover komik Jokowi.

Uniknya, desain halaman muka itu hanya diunggah di website gulunglenganbajumu.com. Siapa saja boleh menggunakan desain itu untuk bikin poster, spanduk, kaus, dan lain-lain. Bebas tanpa bayaran, tetapi dilarang mengacak-acak desainnya karena terkait hak cipta. Malah, untuk mencetak di atas kaus yang bisa dijual pun tak terpikir karena takut dituduh komersial.

Adalah Director/Chief Creative Officer Berakar Komunikasi, Yoga Adhitrisna (42), yang mulanya dihubungi Sekjen Jo-Man (Jokowimania). Jokowimania adalah kelompok relawan pendukung Jokowi. Kawan sekampus itu menanyakan siapa yang mau membantu kampanye Pilpres Jokowi secara pro bono. “Waktu itu kami butuh materi kampanye yang ringan, keren, nggak malu-maluin, bukan kampanye murahan. Kalau nantinya banyak yang membajak karya ini nggak apa-apa, malah bangga kok,” kata Yoga dengan enteng.

Kemudian Yoga pulang ke kantor, brainstroming dengan para karyawan, yang ternyata dengan sukarela bersedia membantu. Akhirnya, muncullah ide membuat Tintin-Jokowi. “Ada yang bilang Jokowi itu jujur, merakyat, sederhana, dan rajin kerja. Akhirnya, kami memilih yang rajin kerja karena action oriented dan aspiratif,” tutur Yoga. Bagi orang iklan, kalau tidak ada gesture itu nggak keren dan seru karena pasif.

“Kami mengajak orang bukan ‘Ayo dukung Jokowi’, tapi ‘Ayo sama-sama beraksi agar Jokowi menang’,” ujar Yoga. Para awak periklanan tersebut ingin agar masyarakat memilih Jokowi karena kerjanya, bukan karena visi-misinya saja.

Bersikap Netral

Ketika SH datang ke kantor Berakar Komunikasi di Jalan Cikatomas II No 33, Kebayoran Baru, Hari dan Yoga menguraikan secara bergantian. Ditanya mengapa tidak ada gambar Jusuf Kalla, Hari menjelaskan desain itu sudah dibuat sebelum ada calon wakil presiden (cawapres)-nya. Sementara itu, saat ditanya kenapa hanya membuat cover-nya bukan isi komiknya, Yoga menjelaskan, nanti cerita riilnya Jokowi dan rakyat Indonesia yang akan membuat.

Menurut Hari, konsep yang berbeda itu diciptakan tanpa kontrak bisnis. Yoga menuturkan, pihaknya berjarak dengan realitas sehingga jernih melihatnya. “Kami tidak membuat desain Jokowi dengan baju kotak-kotak, tetapi dengan baju putih polos. Ini gambaran Jokowi setelah jadi presiden nanti.”

Warna-warni cerah yang dipakai mencerminkan optimisme dan ajakan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih indah dan menyenangkan. Kalaupun ada warna, itu bukan warna merah partai (PDIP-red), tapi bendera Merah Putih.

Yoga yang mengaku apolitis, menegaskan saat ini keadaan Indonesia mirip tahun 1998. Semua orang tertarik ngurusin perjuangan. Kalau pada 1998 orang sibuk menjatuhkan Presiden Soeharto, sekarang sibuk memenangkan Jokowi menjadi presiden. Jokowi bisa menjadi semangat baru, tetapi bisa terancam oleh orang-orang status quo masa lalu. “Karena itu, yang di ranah politik ini harus gulung lengan baju,” ujarnya mengingatkan.

Ongkos Bantingan

Kreativitas untuk sang calon presiden disempurnakan kelompok yang tampil dengan website kenapajokowi.com. Adiyoso alias Yoyok (48) merupakan salah seorang kreatornya. Ia mengatakan, tak ada posko untuk komunitas para praktisi dari lintas profesi tersebut. Tokoh-tokoh ngetop ada di dalamnya, seperti Butet Kertaradjasa, Gunawan Muhammad, Faisal Basri, Todung Mulya Lubis, dan Ayu Utami.

“Ini adalah gerakan bawah tanah. Jadi, markasnya pindah-pindah. Kantor saya di Kemang, kadang-kadang kumpul di TUK (Teater Utan Kayu-red), di Green Radio, di Salihara. Itulah gank-gank kami. Orang media juga banyak,” ujar Yoyok kepada SH melalui telpon, Senin (9/6).

Gerak roda kegiatannya dari hasil bantingan atau saweran alias patungan. Apalah namanya, pokoknya gerakan masyarakat itu muncul secara murni dan spontan. Contohnya, pada 14 Juni ini diadakan acara Jokowi di Jakarta, disusul event besar di Yogyakarta pada 19 Juni di bawah koordinasi budayawan Butet Kertaradjasa.

Semua biaya swadaya, termasuk setiap peserta berangkat dengan ongkos sendiri menuju lokasi acara, membuat spanduk dengan biaya sendiri, konsumsi pun diadakan secara patungan, dan lokasinya di tempat yang merakyat. Ada purnawirawan TNI, pedagang kaki lima, petani, dan lain-lain yang ikut serta.

Menurut Adiyoso, Komunitas Kenapa Jokowi terbentuk dari ketidakpercayaan terhadap partai politik. “Dari dulu kan partai-partai gitu saja, coba saja… Nggak ada perubahan karena partai. Lihatlah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Jokowi. Mereka itu orang nonpartai. Kalau yang partai rusak semua, spiritnya berubah.”

Aura atau soul perkumpulan nonformal itu tertulis di halaman 2 website kenapajokowi.com. Simaklah petikan Manifesto Rakyat yang Tak Berpartai. “Kami, rakyat yang tidak berpartai, berpendapat bahwa kepartaian di Indonesia semakin mengingkari aspirasi rakyat. Kami menyaksikan bagaimana partai digunakan sebagian elite untuk mendapatkan kedudukan, kekuasaan, dan kekayaan. Ini adalah kelanjutan dari masa lalu yang mendorong partai bukan lagi menjadi alat perjuangan, melainkan alat untuk mengejar kepentingan pribadi. Kami sudah hampir putus harapan.”

Namun, berangsur-angsur ada celah akan kembalinya kehidupan politik yang bersih dan mengabdi kepada rakyat. “Suara kami mulai menggema dan terdengar. Kami melihat munculnya tokoh-tokoh nonpartai sebagai pemimpin. Mereka adalah tokoh-tokoh yang bersih, tulus, dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Mereka adalah orang-orang muda yang tidak tercemar oleh dosa politik masa lalu. Mereka itulah yang mengembalikan harapan kami,” lanjut manifesto itu.

Tersebutlah Jokowi di antara tokoh-tokoh itu, yang tampil dari bawah dari kalangan rakyat dan lintas golongan. Jokowi dipilih dan dipercaya bukan karena ia petugas partai, melainkan petugas rakyat. Karena itulah, Adiyoso dan kawan-kawan yang nonpartai itu percaya Jokowi akan melaksanakan amanat rakyat untuk mengubah kehidupan sosial-politik ke arah yang lebih baik.

Tak lupa ia mengajak semua pihak jujur mengakui hasil survei yang menyebutkan kemenangan ada di pihak nonpartai, golput, swing voter. Karena itu, ditargetkan untuk mendorong orang-orang yang golput dan yang masih bingung memilih supaya pada pilpres kali ini menggunakan hak pilihnya. “Kalau semua orang baik diam saja, jadinya kayak apa?” Adiyoso bertanya.

Ia mencontohkan Yoga Adhitrisna dari Berakar Komunikasi. “Mana mungkin kartunis seperti Yoga yang tahu politik saja tidak, kok mau mencurahkan aspirasinya untuk perubahan?” katanya. Orang yang dimaksud Adiyoso adalah berkat peranan Yoga akhirnya tercipta cover komik Tintin karya Hari Prasetiyo.

Adiyoso juga menjelaskan tujuan Komunitas Kenapa Jokowi adalah terciptanya Indonesia yang lebih baik. Simpati kepada Jokowi bukan berarti kepercayaan terhadap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), karena kepentingan PDIP adalah kekuasaan. Hal yang didambakan adalah harapan Indonesia yang lebih cemerlang.

Naruto untuk Prabowo

Kreativitas yang berbeda ditunjukkan mereka yang pro capres Prabowo Subianto. Seperti yang disaksikan SH, tangan Reza Auliarahman Bhaktinagara (24) lincah bergerak menarik garis membentuk gurat wajah Naruto, tokoh manga Jepang. Sesekali Reza menebarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan di kantor media centre relawan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah di Kota Semarang.

Sore itu Reza bergegas menyelesaikan satu cerita komik yang harus segera dicetak sebagai brosur berisi pesan tentang pasangan capres dan cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. “Mengapa gaya manga? Karena sasarannya pemilih pemula yang dekat dengan era puncak popularitas tayangan Naruto. Jadi, saya mudah menyampaikan program capres dengan bahasa anak muda,” ucapnya.

Awalnya, Reza tak pernah menyangka bisa aktif sebagai relawan pemenangan pasangan Prabowo-Hatta lewat keterampilannya menggambar komik. Ini bermula saat salah seorang pengurus partai mengagumi karya desain visualnya. Dalam kesehariannya, Reza adalah desainer grafis di Semarang yang karyanya telah menembus pasar luar negeri dengan beberapa klien dari Kanada.

“Proses kreatif untuk membumikan ide-ide pasangan capres-cawapres itu membuat saya semakin tertantang. Itu karena tidak mudah mengubah komunikasi politik menjadi bahasa yang mudah dipahami kalangan muda,” ucap Reza yang alumnus jurusan biologi Universitas Diponegoro ini.

Serupa dengan Reza, Dwi Pangesti Aprilia (24) yang akrab dipanggil Ees, juga mengemukakan proses kreatifnya lebih terbangun di berbagai komunitas komikus Indonesia melalui media sosial. Pada masa kampanye pilpres ini, Ees juga memperkuat tim komik, tetapi coretan gambarnya cenderung ke model komik Indonesia.

“Garis coretan saya lebih bulat dan mendekati gaya komik Indonesia. Demikian juga ide ceritanya. Kami punya gaya khas tersendiri,” tutur Ees yang rajin menggiatkan komunitas komikus di Semarang ini. Ia mengaku pernah mendapat pesan BBM yang memuji karyanya sebagai komik yang lucu karena isi pesannya mengena.

Sebagai relawan tim pemenangan Prabowo-Hatta, Reza dan Ees sepakat berpendapat kali ini kerja kreatif mereka lebih ditantang untuk semakin bervariasi. Namun yang pasti, nanti setelah masa kampanye Pilpres 2014 berlalu mereka akan terus berkarya.

Momentum kampanye pilpres ini juga menjadi peluang usaha bagi Agus Wiryawan (36), warga Kecamatan Laweyan, Solo. Melalui bakat dan keterampilan tangannya, Agus membuat miniatur Jokowi dan Prabowo dengan bahan resin fiberglass warna-warni. Karakter dua capres itu dibuat sebagaimana yang paling mudah diingat masyarakat, seperti model senyuman dan gaya berbusana tiap capres.

“Seperti jidat Jokowi yang sedikit berkerut dan baju putih lengan panjang yang digulung, sedangkan untuk Prabowo dibuat tersenyum dengan pipi menggembung dan pakaian warna krem banyak kantong,” kata Agus.

Pembuatan miniatur setinggi 15 sentimeter itu berkisar tiga hari hingga seminggu, tapi Agus baru memproduksi satu miniatur Jokowi dan Prabowo yang sudah laku terjual pada seorang pengusaha terkenal. Untuk harganya, ia mematok antara Rp 300.000 hingga Rp 1,5 juta.